Perubahan Indikator

Posted: 20 Agustus 2011 in Pemikiran
Tag:

Hampir setiap hari berada di jalanan, membuatku bertemu dengan banyak orang dan banyak tipe orang, dengan berbagai sikap di jalan. Ada yang tertib, menjengkelkan, atau sangat menjengkelkan.

Salah satu tempat di mana aku sering menemui orang-orang yang sangat menjengkelkan adalah di perempatan jalan yang ada lampu merahnya. Tentunya setiap orang yang pernah sekolah dasar pasti pernah diajari bahwa lampu merah itu berarti berhenti, kuning berarti berhati-hati, dan hijau berarti jalan. Walau ga sekolah pun tapi tahu aturan, pasti juga tahu arti warna-warna tersebut. Tapi, kenyataannya tidak demikian (terutama tentang lampu merah). Di mana merah tidak harus selalu berhenti, tergantung kondisi.

Yang sering memperlakukan demikian adalah pengendara sepeda. Sepeda, yang notabene tidak ada pajaknya, sering melanggar aturan tersebut. Kalo ada apa-apa di tengahnya, yang muncul adalah alasan sepede itu kendaraan kecil, yang nabrak kendaraan gede, jadi sepedanya ga bersalah. Hal yang sama juga terjadi pada becak.

Lain lagi kalo kendaraan lain yang melakukannya. Kalo udah sepi, ga ada yang lewat, biar masih merah ya jalan aja. Ada alasan apa sih? Buru-buru? Pengen cepet? Kalo pengen cepet kok ya nggak berangkat dari kemaren aja, lebih cepet!

Salah satu yang juga sangat menyebalkan adalah pengendara motor yang di lampu merah tidak menempatkan diri dengan baik. Biasanya kalo ada pohon di tepi jalan, kebetulan lagi panas, berhentinya ya di bawah pohon itu, tidak pada jalur semestinya. Yah, kalo dengan alasan itu, mestinya kalo panas ga usah keluar, di rumah aja, daripada di jalan trus berteduh!

Perempatan (atau pertigaan) lampu merah itu jarang sekali ada ‘penunggu’nya walau ada pos dan patung polisinya (padahal polisi yang paling jujur di negeri ini adalah patung polisi dan polisi tidur!). Kecuali kalo perempatan alun-alun dan perempatan strategis lain, pasti rutin dijaga polisi. Jadi, indikator makna warna pada lampu sudah jarang dipakai, yang dipakai adalah indikator ada penjaganya atau tidak.

Ya tidak semua pengendara seperti itu. Tapi tetap aja, kebanyakan seperti itu. Sudah jelas ada tanda ‘Belok kiri ikuti isyarat lampu’, masih saja nyerobot. Ini yang salah mata atau otaknya ya?

Jadi teringat pengalamanku dulu saat sial menerobos lampu merah. Di pertigaan, biasanya kalo jalan lurus walau lampu lagi merah ya terus aja, jadinya aku terus. Padahal jelas-jelas ada polisi sedang jumeneng di tengah jalan. Ya udah, jadi deh aku dihentikan dan dikasih pengarahan. Aku memang salah, jadi ya aku dengerin aja. Pas mo bayar ‘upeti’, dia bilang ga usah, tapi aku harus berjanji tidak mengulangi lagi. Jadinya, sekarang kalo pas lewat lampu merah, aku sangat berhati-hati (bukan karena berhati-hati kalo ada yang jaga).

Sekarang, siapa yang salah? Guru SDnya yang kurang mengajarkan makna warna lampu itu, atau orangnya yang ‘bermata tapi tak melihat’? Tentulah guru tidak bisa disalahkan, karena mental berkehidupan tidak didominasi dari pengajaran sekolah. Yang terlihat di sebuah iklan rokok tentang pelanggaran lalu lintas itu memang nyata terjadi, bahkan kalau ada yang jaga sekalipun. Mungkin mental umum kita di negeri inilah yang perlu diperbaiki.

Bacaan yang sama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s